Rio Helmi : Drawing In Brightness (Story From The Cans)

Painting with light is actually something old. Light, shadow, reflection shape our visual world, and more often we do not think further about it. Back in the old days, ancient nomads of the desert al­ready knew an interesting effect. The light rays in the desert are so harsh and they bounced through their dark tents. The Nomadic saw effect ‘camera ob­scura’ in the tent wall opposite to the holes: a picture appears the same as the scene outside their camps, only it is upside down.

After this effect was introduced by Arab scholars into the Western world, many Western artists took advantage of this effect by creating a ‘camera obscura’ (dark room) with a small hole on one side. Then there is another develop­ment, the formation of a lens that at­taches to the camera obscura. The lens was not new: the Assyrian relics 3000 years ago including the Nimrud lens, the ancient Egyptians used a magnify­ing lens, the 10th-century Arab scien­tist Ibn Sahl successfully calculate the effective lens shape, and so on.

The idea of using light-sensitive mate­rial for ‘direct recording’ effect was first discovered in the 19th century. Various experiments by people like Niepce finally succeeded, then there was a quantum leap: the real photo-graphy. After one or two centuries later, what we know it today are the advanced photography devices directly trans­ferred to computer tape. But basically the camera obscura principle remains the core of photography – painting with light.

We are now more impressed with the advance of modern devices rather than to understand the core processes of photography it self. Sometimes in edu­cation we just have to dismantle the perception that has been indistinctly formed. If we do not know the ‘basic’ of a science or an art, our knowledge is poor. Even the perception that art and science is something absolute only prove our limitations – the actual science requires creativity, and art re­quires science as well. Illustrations of this principle is easy to find in the field of photography.

Education does not serve as a ‘two-legged machine’ but as an eye-opener and inspiration. Without an early cre­ative education,which gives children the opportunity to be directly involved in the creative process using scientific principles (or creative scientific proj­ects), no matter how simple it is, then the subsequent education will difficult to proceed and will onlybecome a mere routine scored of humans with “MULO KETO” philosophy (approximately: ‘it has always been that way’).

In fact, an earlycreative education should not require massive funding, facilities and so on. What is needed is creativity and vision guide. Although KLJ Program at Sanggar Anak Tangguh utilises insignificant material value, (where other people will learn about creativity using the latest gadgets, chil­dren at Sanggar Anak Tangguh learn to tell stories through the tin cans) but it is highly educative. Children who participated in the program have the opportunity to explore their everyday world with new eyes: dismantle the perception of ‘MULO keto’, both in en­vironment and photography, and also have fun to get a deeper understand­ing. We do not need to measure their success from the sophistication of their final results, but from processes that have been beyond them. The process is enlightening as well as happy.

Rio Helmi  |  Photographer

=================================================================================

Menggambar Dengan Kecerahan (Sebuah cerita dalam kaleng)

Melukis dengan cahaya sesungguhnya adalah sesuatu yang kuno. Cahaya, bayangan, pantulan membentuk dunia visual kita, dan kita lebih sering tidak berpikir panjang mengenai itu. Zaman dulu para pengembara nomad di gurun pasir sudah mengenal suatu effek yang menarik. Karena sinar cahaya di gurun pasir begitu tajam maka ia terpantul menembus lubang-lubang kemah mereka yang cenderung hitam. Para nomaden melihat effek ‘camera obscura’ di dinding kemah yang berlawanan dengan lubang-lubang itu: gambar persis keadaan di luar, meskipun terbalik.
Setelah effek ini diperkenalkan oleh ilmuwan Arab ke dunia Barat, tidak sedikit pelukis Barat yang memanfaatkan effek ini dengan membuat “camera obscura” (kamar gelap) dengan lubang kecil di satu sisi. Kemudian ada perkembangan lagi, pembentukan lensa yang bisa dipasang ke camera obscura. Lensa pun bukan hal yang baru: peninggalan Assyria 3000 tahun lalu termasuk lensa Nimrud, orang Mesir jaman dulu menggunakan lensa pembesar, pada abad ke-10 ilmuwan Arab Ibn Sahl berhasil mengkalkulasi bentuk lensa effektif, dan seterusnya.
Pada abad ke-19 ada yang mendapat ide untuk menggunakan bahan yang peka cahaya untuk ‘merekam’ effek itu secara langsung. Berbagai eskperimen oleh orang-orang seperti Niepce
Menggambar Dengan Kecerahan (Sebuah cerita dalam kaleng)
akhirnya berhasil, maka terjadilah lompatan kuantum: photo-graphy yang sesungguhnya. Setelah satu-dua abad lagi, maka yang kita kenal sekarang adalah alat-alat foto super canggih yang rekamannya langsung ditransfer ke komputer. Namun pada dasarnya prinsip camera obscura tetap menjadi inti dari photography – melukis dengan cahaya.
Kita sekarang lebih terpukau dengan kecanggihan alat super canggih ketimbang memahami proses inti photography sendiri. Kadang dalam pendidikan kita justru harus membongkar persepsi yang sudah terbentuk secara tidak jelas. Seandainya kita tidak tahu ‘basic’ suatu ilmu ataupun suatu kesenian, miskinlah pengetahuan kita. Bahkan persepsi bahwa seni dan ilmu adalah sesuatu yang mutlak terpisah hanyalah bukti keterbatasan kita – sebenarnya ilmu memerlukan kreativitas, dan kesenian memerlukan ilmu pula. Illustrasi prinsip ini mudah kita temukan dalam bidang photography.
Pendidikan berfungsi bukan untuk mencetak ‘mesin berkaki dua’ tapi untuk membuka mata, untuk membuka hati. Tanpa pendidikan awal yang kreatif yang memberi kesempatan pada anak untuk terlibat langsung dalam karya kreatif dengan menggunakan prinsip-prinsip ilmiah (ataupun proyek-proyek ilmiah yang kreatif), betapa sederhana pun, maka pendidikan selanjutnya pun pincang dan berisiko tinggi hanya akan menjadi rutinitas yang sekedar mencetak manusia yang falsafah hidupnya tidak lebih dari kepasrahan “mulo keto” (kurang lebih: ‘dari dulu memang begitu kok’).
Kenyataannya pendidikan awal yang kreatif tidak harus memerlukan dana besar-besaran, fasilitas mentereng dan sebagainya. Yang diperlukan adalah kreatifitas dan visi pembimbing. Program KLJ di Sanggar Anak Tangguh ini adalah program yang secara nilai materinya sederhana – dimana orang lain akan belajar motret dengan kamera mutakhir mereka bercerita dengan kaleng bekas – tetapi secara edukatif sangat signifikan. Anak-anak yang terlibat dalam program mendapat kesempatan untuk mengeksplorasi dunia sehari-hari mereka dengan mata yang baru: membongkar persepsi ‘mulo keto’ baik tentang lingkungan mereka maupun tentang fotografi, lalu asyik mendapatkan suatu pemahaman yang lebih dalam. Kita tidak perlu mengukur keberhasilan mereka dari kecanggihan karya akhir, melainkan dari proses yang telah mereka lampaui. Proses yang mencerahkan sekaligus membahagiakan.

Rio Helmi  |  Photographer

http://www.riohelmi.com

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: